Perempuan yang termarginalkan secara sosial menjadi akar keprihatinan RA Kartini pada masanya, beliau merintis pengajaran yang memberi ruang bagi perempuan untuk bisa mengenyam pendidikan dan pengetahuan. Di beranda rumahnya RA Kartini memulai dan mempelopori home schooling untuk mengentaskan kaumnya dari keterbelakangan yang akut dengan mengajarkan menulis, membaca dan keterampilan hidup (life skill).
Ditengah gemuruh kemajuan wanita indonesia kita tidak boleh membelakangi kenyataan betapa nun jauh di pelosok – pelosok desa termasuk di Lumajang tercinta, masih terdapat kaum-kaum wanita yang berada dalam lingkaran keterbelakangan. Masih banyak perempuan yang karena realitas sosialnya harus rela mengesampingkan pendidikan, mereka tidak hanya putus sekolah bahkan sebagian justru samasekali tidak pernah mengenyam bangku pendidikan dan menjadi buta aksara / buta huruf.














0 komentar:
Poskan Komentar